Menu Tutup

Te*or itu nyata di depan mata, mari bersatu melawanya

Banyak diantara kita yang tidak menyadari bahwa ini adalah nyata ada di sekitar kita.Sebuah " ancaman " yang sewaktu waktu bisa meledak tanpa basa basi.

Bukan hanya akan merugikan diri kita,namun bukan mustahil apapun yang terkait dengan diri kita.

Hoax yang terus menerus di propagandakan memenuhi rongga kepala, menjadi virus virus yang mengalir seperti darah dalam tubuh. Menjadi racun yang yang akan "membu*uh" fungsi otak secara perlahan tanpa disadari

Cara pandang yang monoton, melihat hanya dari satu sudut pandang, akan menjadi salah satu faktor pemicu lepas kendali,tanpa bisa membangun benteng proteksi diri hingga bicara seperti malaikat walau sebenarnya memiliki pemahaman agama yang sempit

Apa yang tidak seperti dirinya dianggap salah.Karena hanya dirinya dan kelompok kaumnya lah yang paling benar, yang paling bersih, yang paling suci. Orang lain kotor dan haram.

Melihat sesuatu dari depan, belakang, samping, atas dan bawah adalah hal penting untuk meminimalisir agar tidak tertipu. Memastikan bahwa itu benar benar dan sesuai.

Menjadikan diri dengan jiwa toleransi tinggi, memiliki pemahaman dan penafsiran yang lebih luas hingga tumbuh rasa cinta terhadap sesama dan jiwa nasionalis yang besar.

Apa yang tidak kamu sadari?

Ketika para "elite" memiliki agenda besar dan suatu hari nanti harus adu kekuatan di atas "Ring" maka mereka akan membutuhkan banyak massa untuk mensupport agar piala dan ambisi besar bisa di raih dalam kemenangan gemilang.

Maka mereka akan membidik target supporter dari kaum mayoritas bukan minoritas.Siapa umat mayoritas?. Tetapi apa yang dilakukan, bukan sportifitas tinggi yang menjadi dasar target. Tetapi black campign, non sportif, kecurangan,Hoax, fitnah, sara dengan ribuah dalih bela agama bela palestina.

Kroco kroco "keracunan" inilah yang dengan mudah di giring seperti ribuan semut di suguhi ber ton ton gula. Diperalat tanpa menyadari kemana arah dirinya akan di bawa.

Disitulah kesalahanmu yang tidak kamu sadari. Kamu harus berdiri dimana, belajar kepada siapa hingga kamu lupa diri berteriak teriak di jalanan memamerkan kata kata takbir, membentangkan bendera orang lain seakan kamu bukan lagi di Idonesia.

Barang siapa yang meniru dan menyerupai suatu kaum maka ia adalah bagian dari kaum tersebut. Teriakan yang kau pamerkan di jalan itulah seperti isis di suriah dan kaum te*oris di muka bumi ini

Islam cinta damai, penyejuk alam semesta, menghargai dan menghormati perbedaan, mengasihi sesama tanpa memandang Ras Suku dan Agama. Karena isi alam semesta ini ciptaan Allah Yang Maha Esa.

Rindu khilafah

Aku merindukan masa kecilku puluhan tahun lalu. Karena aku pernah melewati masa kecil dulu. Aku merindukan orang tua, karena aku memiliki dan terlahir dari orang tua. Aku rindu anak, istri, karena aku memang memiliki dan itu bagian dari hidupku saat ini.

Tetapi ketika aku ditanya apakah aku rindu khilafah, tentu aku tidak bisa menjawab karena tidak pernah mengalaminya.

Pasti berbeda denganmu karena mungkin pernah menyebrang kemasa itu dengan melewati lorong waktu ribuan tahun. Hanya kamu yang tau.

Mungkin karena terlalu mendalami kisah kegagahan Umar Bin Khattab dan tentara Islamya saat menaklukan tentara Romawi.

Atau mungkin karena sering menonton film yang mengisahkan cerita Khilafah hingga ingin menjadi aktor dalam film tersebut agar tercatat dalam sejarah di masa depan. Entahlah hanya kamu yang tahu.

Tetapi bagiku, Khilafah pada saat ini adalah "meneruskan" sesuai jaman, dengan lebih menyempurnakan penafsiran Al Kitab dimana para pendiri Negeri ini telah merumuskan dan memutuskan menjadi Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan Bendera merah putih.

Mengapa bukan Negara khilafah? tetapi Republik dengan dasar Pancasila yang berBhinneka Tunggal Ika? Apakan pendiri Negara ini tidak mengerti Islam? Tidak mengerti Khilafah?

Dipastikan beliau para pendiri Bangsa ini mengerti Khilafah, tapi Pancasila dipilih sebagai keputusan final. Karena Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras dan Agama yang berbeda beda yang tertuang pada Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika.

Bukan dengan mengulang dan kembali ke masa itu dimana masa itu 10000% berbeda dengan kondisi jaman sekarang ini.

Ketok palu resmi HTI bubar, 2 kasus berturut turut terkait pelaku te*or.

Te*or adalah nyata dan menjadi ancaman besar bagi semua Agama, Bangsa dan Negara di seluruh dunia. Bukan ancaman hanya untuk golongan tertentu saja.

Sudah seharusnyalah kita memproteksi diri dan bersatu membangun benteng pertahanan untuk menjaga dan menyelamatkan keutuhan Republik Indonesia ini.

Ada 3 poros besar yang seharusnya tetap bersatu konsisten membangun dan memajukan Republik Indonesia ini

Baca juga :

Pro pemerintah, Oposisi dan HTI.

Oposisi dan ormas saling mendukung dan tampak meyatu. Namun di dalamnya sebenarnya saling sikut karena memiliki kepentingan sendiri sendiri yang berbeda.

HTI dengan terang benderang mengkampanyekan ingin merubah Negara Pancasila dan membentuk negara khilafah. Ini bukti yang berlawanan dengan Ideologi negara.

FPI dengan puluhan kali aksi bela Islamnya,kini mendeklarasikan Habib Rizik menjadi calon Presiden. Pada akhirnya tetap agendanya politik bukan?

Diantara Partai oposisi sama saling sikut ingin menjadi penguasa banyak memiliki calon Presiden masing masing.

Lalu mengapa oposisi seakan berpihak dan mendukung HTI dan radikalis. Sementara di negara luar sana HTi dan kaum radikalis jelas jelas di larang?

Disilah letak permainan elite politik yang tidak disadari oleh kalangan bawah yang sekedar ikut ikutan tanpa memahami arah dan tujuanya.

Oposisi sedang mencari masa dukungan untuk pilpres 2019 nanti. Mereka memihak kepada ormas dan HTI karena membutuhkan suaranya untuk menjatuhkan lawan.

Mengapa harus ormas dan HTI? Karena mereka mengatasnamakan Islam dan bagian dari mayoritas penduduk di negeri ini.Itu adalah jalan termudah.

Jika oposisi nantinya berhasil memimpin negeri ini, apa mungkin akan tetap memelihara kaum radikal? Jawabnya tidak mungkin.

Mereka tetap akan melakukan seperti yang dilakukan pemerintah sekarang. Yaitu membubarkan HTI dan melenyapkan radikalis dan te*oris

Karena elite oposisi tidak booh. Yang booh pengikut yang ikut ikutan tidak tahu arah. Hanya di jadikan kendaraan untuk mencapai ambisi besar kekuasaan.

Pembubaran HTI merupakan langkah yang tepat untuk memperkecil ruang gerak berkembangnya bibit radikalisme.

Belajar dari sejarah, DI dan PKI adalah bukti kelompok yang merongrong Ideologi negara. Sesuatu yang jelas jelas bertentangan dengan Negara jika di biarkan akan terus membesar.

Kasus kerusuhan di Brimob oleh para napi te*oris terjadi stelah ketuk palu resmi HTI bubarkan dan dilarang pemerintah.

Bom bu*uh diri oleh teroris di gereja Surabaya juga menjadi bukti yang ada kaitanya dengan pembubaran HTI.

Para oposisi menyalahkan pemerintah yang dianggap lemah.Tetapi ketika pemerintah membubarkan cikal bakal te*oris oposisi tetap menyalahkan pemerintah.

Dan oposisi akan terus menggerus seperti itu sampai ambisinya tercapai. Kita lihat saja sampai titik itu terjadi. Pilkada DKI harus menjadi cermin di pilpres nanti.

Sejak kecil kita sudah sering mendengar pepatah gajah di pelupuk mata tidak kelihatan tapi semut di seberang lautan tampak jelas.

Begitulah mereka selalu katakan save palestina, namun sedikitpun tak ada rasa belasungkawa bagi anak Bangsa yang telah gugur membela negeri ini dari tangan iblis teroris.

Aku , Kamu adalah kita Indonesia.

Ketika ada seseorang berbicara di depan mata, yang mengatakan dengan lantang bahwa hanya orang bodoh yang membeda bedakan aliran Agama. Sangat bodoh katanya dengan berapi api.

Aku hanya terdiam dan bekata dalam hati. Sebenarnya aku atau kamu yang lebih bodoh. Kalau aku yang bodoh itu memang benar. Tetapi setidaknya, aku berusaha berpikir logis dan realistis. Berusaha melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda beda.

Tentang Agama kita, ibadah kita adalah untuk Akhirat. Bukan untuk di pamerkan agar dinilai oleh orang lain sepertimu yang selalu pamer dan mengumbar di media seperti malaikat seakan dirinya paling rajin sementara orang lain dianggap tidak pernah melakukan kebaikan. PAMER!!!

Bagiku yang menilai muslim atau kafir, dianggap beribadah atau tidak, dianggap amal atau dosa hanya Allah yang berhak menilainya. Bukan manusia. Jadi tidak ada gunanya di pamerkan.

Agama adalah urusanku dengan Tuhan di akhirat nanti. Urusan dengan sesama adalah sosial. Dan ini yang sedan terjadi di dunia sebagai penunjang ibadah untuk akhirat nanti.

Saling menghormati, menghargai, tanpa pandang ras suku dan agama adalah hal terpenting yang merupakan bagian dari ibadah untuk bekal akhirat.

Karena kita adalah satu. Kita adalah Indonesia.

Rating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.