Menu Tutup

Antara pro, oposisi dan politisasi menjelang pilpres 2019

Antara pro, oposisi dan politisasi menuju pilpres 2019

Apakah benar kalau suatu kejadian atau peristiwa itu terjadi berulang ulang, Hanya berbeda tempat, waktu, situasi dan pelakunya saja? mungkin saja benar mungkin saja tidak.

Lalu apakah peristiwa politik belakangan ini saling berubungan atau hanya pengulangan dari semua peristiwa politik sebelumnya? Kita mungkin memang harus sedikit mengerti sejarah.

Tragedi mei 98

Kita tentu pernah mendengar tentang sejarah kelam tragedi trisakti 98. Bahkan mungkin anda salah satu saksi mata pada saat itu.

Sebenarnya apa penyebab terjadinya kerusuhan yang menimbulkan korban jiwa ribuan orang. Tidak tahu persis pemicu utama kerusuhan itu. Tetapi yang terjadi pada saat itu adalah terjadinya aksi demo mahasiswa yang hampir terjadi di seluruh Indonesia.

Mahasiswa menuntut lengsernya Soeharto yang saat itu menjabat Presiden RI. Tuntutan tersebut bukan tanpa alasan. Karena perekonomian Indonesia saat itu sedang terombang ambing di puncak krisis terparah sepanjang sejarah.

Tetapi sebenarnya krisis moneter saat itu bukan hanya terjadi di indonesia. Namun hampir di seluruh wilayah asia. Dan Indonesia merupakan salah satu yang terkena dampak krisir terparah.

Di jakarta sendiri 4000 an mahasiswa trisakti yang juga melakukan aksi demo besar besaran pada tanggal 12 mei 98. Yang juga di dukung semua rektor yang terkait di universitas tersebut. Apakah mahasiswa kala itu di susupi politik?

Kita tahu aksi demo trisakti waktu itu berujung tragis. 4 orang mahasiswa tewas menjadi korban penembakan oleh aparat. Lantas beredar rumor aksi penembakan tersebut di lakukan oleh anggota kopasus yang kala itu di siagakan untuk pengamanan aksi demo, di bawah pimpinan Prabowo.

Mungkin hal ini yang menjadi salah satu pemicu kerusuhan secara masal selain krisis financial hingga tututan kepada Presiden Soeharto untuk segera turun dari kursi kepresidenan.

Pembakaran, penjarahan, pemerkosaan, pelecehan, pembuhunan dan lain lainya terjadi saat itu terutama pada etnis china. Etnis China dianggap bukan pribumi dan menyebabkan terjadinya inflasi perekonomian Indonesia.Etnis china juga dianggap komunis karena bukan muslim.

Sebenarnya agak janggal, mengapa hal ini terjadi dimana mana, bukan hanya di jakarta.Seakan kejadian ini sudah tersusun secara sistematis.Tentu karena ada dalang dan corong provokatornya.

Siapa yang sering bilang kita harus jadi tuan rumah di negeri sendiri, bukan jadi kuli di negeri sendiri? Kita harus rebut indonesia dari tangan asing. Ini adalah kalimat provokasi yang berbahaya.

Dari gambaran singkat di atas, Istilah cnina, pribumi, PKI, non muslim masih bergulir sampai hari ini. Tragedi 98 bukan hanya istilah ekonomi, melainkan lebih ke unsur politik. Bukan hanya ada pihak "tergusur dan menggusur", melainkan ada banyak pihak yang sedang memanfaatkan situsi tersebut.Lihat pilkada DKI tahun lalu, dan kini menghadapi pilpres 2019. Siapa yang terus menerus memainkan istilah ini?

Baca juga :

Apa yang sebenarnya di inginkan oleh para aktivis 98?

Pilkada DKI sudah usai beberapa bulan yang lalau. Dan pasangan Anis- Sandi lah tampil sebagai pemenangnya. Tentu itu menjadi kebanggan buat mereka. Sementara pasangan petahana Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama kalah dengan hadiah penjara.

Tetapi apa yang terjadi dengan perjalanan pilkada DKI? Puaskah anda dengan kemenangan yang terjadi? Semua orang tahu dan jika mau jujur, Pilkada DKI sarat dengan SARA.

Propaganda hoax, provokasi, fitnah, ujaran kebencian, atas nama Agama dan sara seakan menjadi pondasi wajib untuk keberhasilan dalam memilih pemimpin.

Di setiap aksi atas nama agama, tetapi dalam setiap kata orasi hanya kata politik. Apakah hanya karena tidak ingin seorang non muslim menjadi pemimpin di negeri ini? Atau ada sesuatu yang lebih besar sedang di rencanakan?

Seharusnya sebagai warga negara yang baik harus bisa berpikir jernih. Bukan hanya karena sebuah ambisi. Kita negara kesatuan, yang berbhinneka, terdiri dari berbagai suku ras dan agama. Yang kesemuanya sudah tertuang pada Pancasila sebagai dasar Negara kita.

Jika kita cermati, yang terjadi ketika menjelang pilkada DKI hampir sama dengan kejadian reformasi 98.Perbedaanya adalah jika di tahun 98 menuntut lengser seorang Presiden, jika di pilkada DKI adalah menjegal langkah lawan politik.

Ironisnya, pemainya masih itu itu saja yang dulu menjadi aktivis 98. Luar biasa bukan? Apa yang sebenarnya di inginkan.Apakah ingin mencari gelar bapak reformasi berikutnya?

Pilkada Dki kini sudah berlalu. Namun masih menyisakan banyak hal yang sebenarnya belum bisa di terima. Karena satu kemenangan yang di dasari unsur segala halal. Yang secara naluri tidak bisa diterima oleh logika. Tapi ya sudahlah..kita harus positif ke depan untuk sesuatu yang lebih baik.

Tahun 2019 mendatang adalah tahun yang sudah di tetapkan untuk pesta demokrasi yaitu pilpres dan legislatif.

Namun belakangan, jauh jauh hari sebelum detik itu tiba sudah banyak hal yang terjadi, yang lagi lagi ber unsur politik menuju pilpres.

Caci maki elit politik yang tidak pro dengan keberhasilan pemerintah seakan sudah mendarah daging. Seakan menjadi sarapan pagi ketika mulai membuka media sosial dan berita.

Rudal rudal meluncur siap menghabisi, menjatuhkan dengan isu isu permainan yang masih sama dan di mainkan oleh orang orang yang sama juga sebagai penggeraknya. Ada apa dengan mereka?

Ketika BEM UI mencuat apakah ini pertanda bahwa mahasiswa sekarang sudah tidak mementingkan pelajaranya? Apakah lebih memilih politik yang menyusup ke tubuhnya? Lalu kapan bangsa ini akan maju jika yang mampu kuliah mulai meninggalkan pendidikanya?

Masih berdekatan dengan BEM, media kembali menyuguhkan berita tentang rencana degradasi pemerintah yang sah.Yang kemudian tak berapa lama akhirnya digagalkan.

Terbongkarnya kaum saracen yang juga di duga menjadi peluru tajam propaganda hoax, menjadi pembangun persepsi publik, pembentuk opini masal yang berlawanan dengan pemerintah. Hal ini juga tentu di balut dengan politisasi dengan tameng agama.

Istilah Indonesia bubar 2030,Jurus Pak Amin Rais dengan istilah pengibulan, istilah partai setan vs partai Allah, kaos ganti Ganti presiden,Masalah hutang negara, dan tentu masih banyak lagi hal hal yang sarat dengan politisasi. Masih dengan pertanyaan yang sama, apa yang mereka inginkan? Membangun negeri inikah atau menghancurkan negeri ini.

Dan hari ini menuju Pilpres masih jauh, mungkin masih ada ribuan upaya propaganda hitam yang akan terus bergulir. Banyak yang tidak suka dengan kemajuan yang di capai pemerintah sekarang hanya karena bukan dari golonganya.

Tapi dari kesemuanya mengapa mereka selalu menutup mata jika kasu terjadi dari golonganya? Korupsi, suap menyuap, penipuan dana calon jemaah umroh. Masihkah diantara kita ada yang mau berpikir logis? realistis? waras?

Ketika pro menjadi oposisi dan oposisi menjadi pro

Jujur saja di pilpres 2014 lalu saya bukan pemilih Jokowi. Ngapain milih Jokowi, hanya mantan tukang kayu yang kerempeng dengan chooper yang cempreng?

Saat itulah kita menjadi oposisi.Pilpres tak ada kecurangan. Semuanya masih di bilang berjalan dengan baik.

Saat itulah oposisi seharusnya kembali menyatu. Mendukung pemerintahan yang akan di mulai dan kini berjalan.

Oposisi harus bisa melihat dunia dengan jernih, melihat fakta, realistis dan logis. Bisa menempatkan diri, berdiri pada posisi yang seharusnya sambil menunggu pertandingan pada pilpres berikutnya.

Bukan dendam kesumat dengan mengumpat sesukanya. Bukan menyerang menerjang tanpa berpikir panjang.Lalu kapan demokrasi disini akan sehat?

Dan kini kita adalah bagian dari pendukung pemerintahan Jokowi. Tanpa diminta, namun karena kita bisa melihat kenyataan atas keberhasilan pemerintah. Karena kita waras, mampu berpikir dengan logis.

Tapi tahun 2030 nanti mungkin kita kembali menjadi oposisi. Karena pemimpinya mungkin bagian dari mereka yang mengawali Indonesia bubar.

Namun terlepas dari itu, selama pemilu tanpa kecurangan, jika kita ingin tetap jadi orang waras, selama kita masih bisa berpikir realistis, maka jadilah kita oposisi yang waras. Karena kita bukan mereka.

Tanpa memandang siapa, beragama apa, dari suku mana selama bisa memimpin negeri ini dengan baik, bisa memajukan negeri ini, kita harus mendukung pemerintah. walaupun kala itu kita menjadi oposisi.

Jangan mentradisikan jejak jejak politik hitam kepada anak cucu kita. Kita hanya ingin Indonesia menjadi negara maju di masa depan yang akan di nikmati anak cucu kita.

Pertanyaan terakhir, apakah yang mereka inginkan? apakah semuanya baru berhenti jika negara ini dipimpin oleh orang orang bagian dari mereka?

#salamwaras #salamdamai #salam2periode # MajuIndonesiaku #salamwongcilik

Rating

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.